Kamis, 26 Maret 2009

mira bertanya, kenapa omnobo tidak suka eskrim

Hmmm,

             berat menjawabnya mir, tapi melihat tatapanmu yang penuh harap dan simpati, akhirnya dengan iba kuturuti kemauanmu, meskipun hal ini akan membangkitkan kenangan yang berpotensi menimbulkan PTSD { Post Traumatic Sindrom Disorder [ penjelasannya bisa dilihat di PPDGJ (PPDGJ = Pedoman Psikodiagnostik Ganguan Jiwa<>)]}

Oke, Bisa saya mulai ceritanya mir??

saya rasa kamu menjawab iya...

baiklah, jika kamu tidak sabar, saya akan mulai menceritakannya

cerita dimulai long,long time ago....

( om nobo terdiam, lalu menerawang )

FLASHBAG

         Di sebuah desa yang tenang di pelosok kabupaten Jombang, Hiduplah seorang petani lugu dan rajin. Sutomo namanya. Sutomo memiliki sepetak sawah yang tidak terlalu luas, namun cukup untuk menghidupi istri serta kelima anaknya yang terdiri dari empat orang putri dan seorang putra bungsu. Tiap harinya Sutomo berangkat pagi-pagi sekali untuk mencangkul sawahnya dan pulang ketika adzan dzuhur berkumandang dari langgar di belakang rumahnya. Dia melakukan itu setiap harinya dengan penuh semangat, tanpa mengeluh. Sesekali dia teringat masa mudanya sebagai seorang pejuang. Dan mengingat keputusan besarnya untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai kantor pos di surabaya dan memilih untuk membeli tanah di desa ini demi hidup damai bersama istrinya. namun dia tidak pernah menyesali keputusannya 20 tahun yang lalu.

         Hari ini Sutomo sepertinya tidak bisa berangkat ke sawah, sudah semalaman dia terjaga dirumahnya, juga istrinya, serta keempat anaknya yang lain. beberapa tetangga juga terlihat ikut terjaga dirumahnya. di salah satu kamar dirumahnya yang sederhana, putrinya yang nomer dua sedang berjuang diantara hidup dan mati untuk memperlihatkan dunia kepada seorang anak yang tengah dikandungnya. Di kamar tersebut hanya terlihat seorang bidan, ibunya, serta dukun bayi andalan desa tersebut membantu proses persalinannya. Sutomo menanti di ruang tamu dengan cemas, dia tidak merokok seperti halnya beberapa tetangga yang ikut menunggu dirumahnya. Sutomo  beberapa kali melihat ke arah jalan di depan rumahnya, seolah menanti seseorang. Dia memang menanti seseorang, suami putrinya, ayah dari anak yang akan dilahirkan anaknya. 

           Sesosok pria tiba-tiba muncul di depan rumah, dengan pakian loreng, sepatu lars, ransel besar, serta baret ungu kebanggaan angkatan laut. Pria tersebut lalu menemui Sutomo, mencium tangan mertuanya tersebut dan bertanya keadaan istrinya. Pria tersebut seolah sudah melupakan kondisi badannya sendiri yang kelelahan karena baru saja pulang dari sebuah latihan militer. Seperti sudah menentukan saat yang tepat, sesaat setelah Ayahnya datang, bayi tersebut mengeluarkan dirinya diiringi hembusan nafas lega dari seluruh orang yang berada dirumah tersebut, ucapan hamdalah orang-orang tersebut mengikuti suara tangis terputus-putus bayi yang baru saja melihat dunia tersebut. Ayahnya tersenyum lega, dan segera bergegas bersiap diri mengumandangkan adzan ketelinga bayi mungil tersebut. Sutomo tersenyum penuh syukur, cucu laki-laki pertamanya telah lahir, ketika matahari baru saja muncul dan subuh baru saja berlalu. Pagi itu, 16 Agustus 1988 dia memilih tidak pergi kesawah, seharian dia akan menunggui cucunya yang baru saja diberi nama oleh kedua orang tuanya Edwyn Charisma Putra.

         Siang harinya, tetangganya yang juga seorang kepala sekolah dan teman baik Sutomo mengunjungi Sutomo untuk memberi selamat. Teman Sutomo tersebut rupanya juga menggendong cucu perempuannya yang pertama, yang sudah berumur satu tahun. masih bayi sekali Teman Sutomo itu mengenalkan cucunya kepada cucu Sutomo. nama gadis kecil itu Rr. Venny Merysta.

***

Ehm,

omnobo merperbaiki posisinya mengetik, mengecek kondisi batere laptop yang mulai sekarat, dia mencolokkan charger, lalu meneruskan mengetik..

oke mir...,

kita lanjutkan

***

          Limabelas tahun berlalu, Edwyn mulai tumbuh menjadi remaja SMP. Sementara venny tumbuh menjadi gadis SMP ( ya iya lah ). Mereka tetap berteman baik, meskipun berbeda kota, venny seringkali bermain kerumah edwyn, begitu pula sebaliknya. Kedua keluarga mereka bahkan sering menghabiskan waktu ber-week end bersama di luar kota. Edwyn yang lugu sering diajak venny yang sudah puber untuk mengerjakan hal-hal yang menakjubkan bagi remaja seumuran mereka seperti : janjian menabrak penjaga bom-bom car ketika mereka bermain bom-bom car, memacu kuda untuk balapan ketika para penuntun kuda lengah ketika mereka sedang naik kuda wisata, berlomba-lomba meyelam paling dalam dalam permainan mandi bola. Dan yang paling parah adalah : mencoba merasakan seluruh macam rasa ice cream di cafe sebuah hotel di BATU.

           Tindakan terakhir diatas mulanya terdengar menyenangkan bagi keduanya, namun salahsatu dari mereka harus menerima akibat yang dramatis. Rencanyanya mereka akan merasakan 20-an jenis eskrim di cafe tersebut. namun, karena jadwal kegiatan liburan yang padat, mereka memutuskan melakukannya dalamdua hari, separo menu hari pertama, dan separo lagi hari berikutnya. Mereka selalu duduk di meja yang sama dan mengambil posisi yang sama, saling berhadapan, memesan eskrim berbeda rasa agar bisa saling mencicipi, lalu menghabiskan eskrim tersebut dengan cepat agar bisa cepat memesan yang lain. Pelaksanaan terkadang berbeda dengan rencana diatas kertas, begitu kira-kira pelajaran yang diperoleh edwyn. Yang terjadi adalah, mereka duduk di meja yang sama, mereka duduk berhadapan, mereka memesan menu berbeda, edwyn menghabiskan eskrim pesanannya, sedangkan venny rupanya benar-benar seorang pencicip profesional, hanya memakan dua sendok eskrim lalu memberikan sisanya kepada edwyn. edwyn yang dididik untuk tidak menyia-nyiakan makanan tanpa pikir panjang menghabiskan apa yang diberikan venny. Dua hari berlalu dan veny sukses merasakan seluruh rasa eskrim di cafe tersebut, sementara edwyn sukses memakan sekitar dua puluhanporsi eskrim di cafe tersebut selama dua hari. 

         Hari terakhir ketika akan pulang kerumah masing-masing, kedua keluarga tersebut memutuskan mengunjungi sebuah tempat wisata untuk bermain bersama. Veny tampak riang dan sehat, sementara edwyn terlihat tidak sehat. Venny bebas bermain dengan riangnya, sementara edwyn kepalanya mulai terasa panas. Akhirnya ketika sesi foto keluarga, edwyn panik. Panik luar biasa karena dari hidungnya mengucur darah segar..., mengalir lancar seperti baru dibuka krannya. Venny saksi mata pertama hanya berkata, "ih win, hidungmu kenapa?", lalu ibu edwyn dengan sabar mengambil tissue dan mengelap hidung edwyn dan dengan santainya berkata "kebanyakan makan eskrim ini".

Edwyn lalu bermimpi buruk malam harinya, dia duduk di depan meja makan dengan puluhan gelas eskrim dan seorang wanita muda, Venny menyuruhnya menghabiskan seluruh eskrim tersebut, lalu setiap eskrim yang dimakannya, dari hidung edwyn keluar darah (mimisan)

      Bertahun-tahun setelah itu. edwyn berkuliah di Fakultas Psikologi Unair, sementara Venny berkuliah di manajemen unibraw. mereka masih berteman, masih saling mengunjungi. Edwyn masih sabar mendengar cerita venny tentang petualangannya, bolos kuliah dan putus nyambung dengan beberapa laki-laki. Sementara venny, selalu tidak sabar jika edwyn bercerita tentang kegiatan kampusnya. mereka masih berteman baik, bedanya edwyn tidak lagi makan eskrim

***

Omnobo mengehetikan ketikan keyboardnya, adzan jumat sudah berkumandang ,brarti saatnya jumatan.

lalu dia meninggalkan catatan kecil 

*hubungan omnobo dan edwyn bisa dilihat di profil blog ini, sekian terimakasih*

BUAT MIRA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar